Halaman

Pembukaan

As-Salaamu 'alaykum.

AlhamdulillaaH. Alloh SWT telah menciptakan kita dan memberikan kita semua akal sehingga kita dapat berpikir. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW.

Blog ini saya buat bukan untuk kerusuhan, tapi untuk saling berbagi dan mengingatkan sesama manusia khususnya kaum muslimin. Insya Alloh diridhoi-Nya. Aamiin.

Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan di permulaan blog ini:

Pertama, mungkin nanti akan ada sedikit perbedaan cara penulisan kata atau kalimat Arab ke bahasa Indonesia, saya menggunakan cara penulisan yang menurut apa yg terdengar asli dalam bahasa Arabnya. Contohnya As-Salaamu 'alaykum, karena memang begitu tulisan Arab aslinya jika diubah ke huruf Indonesia berupa panjang pendeknya saya tulis pula. Jadi jangan ada perdebatan atau salah pengertian.

Kedua, blog ini akan saya isikan dengan materi-materi yang sumber dan asal-usulnya insya Alloh dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, dalam blog ini DILARANG keras berkata tidak sopan dan menghina satu sama lain.

Keempat sekaligus yang terakhir, Anda dapat menyumbangkan materi atau berpromosi blog yang berkaitan dengan islam lewat komentar. Insya Alloh akan diproses.

Syukron Katsiiron dan selamat membaca. :)

Was-Salaamu 'alaykum.

Senin, 14 Januari 2013

Pentingnya Mengucap Insya Allah

Anda pasti pernah mendengar kalimat Insya Alloh. Kalimat itu diucapkan seseorang apabila ia hendak melakukan sesuatu di masa yang akan datang, bisa besok, lusa, atau kapanpun di masa depan.
Kalimat "Insya Alloh" bermakna "Jika Alloh menghendaki". Misalnya: Guru memberikan tugas rumah kepada murid-muridnya lalu bertanya "PRnya dikumpulkan minggu depan ya anak-anak!" Lalu murid-murid secara serempak berkata "Insya Alloh, Bu."

Kalimat Insya Alloh adalah merupakan sebuah perintah di dalam Al-Qur'an. Teringat pada suatu kisah di Al-Qur'an yaitu kisah AshHaabul Kahfi (Penghuni Gua) pada QS. Al-Kahfi:1-26. Silahkan dibuka sekarang di Halaman Al-Qur'an di atas, klik kanan lalu Open in New Tab.

Di dalam kitab Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Wahyu) dijelaskan bahwa, saya akan kutip disini:

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisy telah mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan 'Uqbah bin Abi Mu'ith untuk bertanya tentang kenabian Muhammad dengan jalan menceriterakan sifat-sifat Muhammad, dan segala sesuatu yang diucapkan olehnya kepada pendeta-pendeta yahudi di Madinah. Orang-orang Quraisy menganggap bahwa pendeta-pendeta itu mempunyai keahlian dalam memahami kitab yang telah diturunkan lebih dahulu dan mempunyai pengetahuan tentang ilmu tanda-tanda kenabian yang orang Quraisy tidak mengetahuinya. Maka berangkatlah kedua utusan tadi ke Madinah dan bertanya kepada Pendeta-pendeta yahudi itu sesuai dengan apa yang diharapkan kaum Quraisy. Berkatalah pendeta itu kepada utusan Quraisy: "Tanyakanlah olehmu kepada Muhammad tentang tiga hal. Jika ia dapat menjawabnya, maka dia Nabi yang diutus, akan tetapi jika ia tidak dapat menjawabnya, maka ia hanyalah orang yang mengaku-ngaku jadi Nabi. Tanyakanlah kepadanya tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi pada mereka, karena cerita tentang pemuda ini sangat menarik. Tanyakanlah kepadanya tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa pula yang terjadi padanya, dan tanyakan pula kepadanya tentang ruh, apakah ruh itu". Maka pulanglah kedua utusan tadi kepada Quraisy dan berkata: "Kami datang membawa sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menentukan sikap antara tuan-tuan dan Muhammad.". Mereka pun berangkat menghadap Rasulullah saw. dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah saw. bersabda: "Aku akan menjawabnya tentang hal-hal yang kamu tanyakan itu", tanpa menyebutkan insya Allah). Maka pulanglah mereka semua.
Rasulullah saw. menunggu-nunggu wahyu sampai lima belas malam lamanya, bahkan Jibril pun tidak kunjung datang kepadanya, sehingga orang-orang Mekah goyah dan Rasulullah saw. merasa sedih karenanya dan tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada kaum Quraisy. Pada suatu ketika datanglah Jibril membawa surat al-Kahf yang di dalamnya menegur Nabi saw. atas kesedihannya karena perbuatan mereka (S. 18 : 6) dan menerangkan apa-apa yang mereka tanyakan tentang pemuda-pemuda yang bepergian (S. 18 : antara ayat 9 s/d ayat 26) dan seorang pengembara (S. 18 : 83 s/d 101) dan firman Allah tentang ruh (S. 17 : 85). Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq dari seorang alim bangsa Mesir dari 'Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.
 Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi SAW pernah bersumpah. Setelah empat puluh malam berlalu, barulah Alloh menurunkan ayat berikut: 
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Alloh".  Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini". (QS. Al-Kahfi:23-24)
Ayat tersebut memperingatkan agar apabila bersumpah, hendaknya diikuti dengan ucapan "insya Alloh". Jadi disitu tertulis kita tidak boleh yakin akan melakukan sesuatu besok pagi atau masa yg akan datang KECUALI dengan mengucapkan Insya Alloh. Apa yang kita tahu hanyalah sedikit. Hanya Alloh yang Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Namun telah menjadi kebiasaan bahwa seorang muslim hanya menjadikan kata Insya Alloh sekedar janji kosong belaka. Padahal seharusnya tidak seperti itu! Yang harus kita lakukan setelah mengucap insya Alloh adalah berusaha secara maksimal.

Jadi marilah kita biasakan mengucap insya Alloh ketika ingin melakukan sesuatu di masa yg akan datang dan kemudian berusaha mencapai keinginan tersebut. Semoga Alloh memberi kita petunjuk. Aamiin.

Kutipan: Kitab Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul oleh Imam Jalaluddin Assuyuthi

Minggu, 13 Januari 2013

Pentingnya Muhasabah Diri

Dalam kehidupan ini, seorang manusia akan selalu berbuat kesalahan kecil ataupun yang besar, dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan karena kebenaran hanya milik Alloh SWT. Seperti yang telah diterangkan dalam surat berikut ini:

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS. Al-Kahfi: 29)

Maha benar Alloh SWT Yang Maha Agung.

Akan tetapi, Alloh SWT juga Maha Pengampun, seperti yang dijelaskan dalam surat berikut:
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Buruuj: 14-16)
Muhasabah secara bahasa adalah menghitung, menimbang, mengintrospeksi, atau bisa disebut mengevaluasi. Sebagai manusia yang tidak luput dari salah dan lupa, kita harus selalu mengevaluasi diri kita apakah sudah sesuai dengan syari’at Islam, kemudian melakukan usaha agar kesalahannya tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Rosululloh SAW berkata dalam haditsnya:
Dari Syadad Bin Aus RA, Dari Rosululloh SAW, bahwa beliau berkata: “Orang yang pandai adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Alloh SWT.” (HR. Imam Turmudzi, ia berkata: “Hadits ini adalah hadits hasan.”)
Ada beberapa cara yang baik untuk bermuhasahah, salah satunya dengan cara menulis semua kegiatan yang kita lakukan dari pagi hingga menjelang tidur baik yang positif maupun yang negatif, lalu mengevaluasi kesalahan apa yang kita lakukan lalu bertaubat meminta ampun kepada Alloh SWT dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi.

Seperti yang dipaparkan dalam QS. Al-Buruuj: 14-16 di atas, Alloh SWT Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Insya Alloh dosa-dosa kita diampuni jika kita mau bertaubat dan berusaha. Jadi, marilah kita bermuhasabah diri agar kehidupan kita senantiasa terkontrol dan kita termasuk orang-orang yang pandai. Aamiin.

Jumat, 11 Januari 2013

Poligami dan Alasan Logisnya

Poligami adalah status bagi seorang pria yang memiliki lebih dari satu istri. Poligami adalah sebuah kata yang apabila didengar para wanita, maka wajahnya menunjukkan bahwa Poligami adalah suatu hal yg dibenci para wanita pada umumnya. Lalu apabila didengar oleh para pria, maka wajahnya tidak usah dijelaskan lagi. :)

Para Nabi dan Rosul banyak yang memiliki istri lebih dari satu, seperti Nabi Ibrohim, Nabi Ya'qub, Nabi Musa, Nabi Sulayman, Nabi Dawud. Jadi tanamkan dalam pikiranmu bahwa bukan Nabi Muhammad SAW saja yang melakukan poligami.

Di dalam islam, poligami adalah hal yang dibolehkan dan dibatasi maksimal 4 istri. Dalilnya terdapat dalam QS. An-Nisaa: 1-3:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisaa: 1-3)
Dari ayat tersebut jelas bahwa Poligami tidak diwajibkan, tapi diperbolehkan maksimal 4 istri. Jika takut tidak bisa berbuat adil, maka jangan poligami.

Rosululloh menikahi wanita yang hampir semuanya janda tua kecuali Aisyah yang membutuhkan perlindungan, dan Rosululloh adil terhadap mereka. Rosululloh menikahi 11 wanita, istri pertama hingga meninggal tidak dipoligami, lalu istri berikutnya hingga 4, lalu meninggal beberapa lalu menikah lagi tetap dalam batasan empat. Perlu diingat lagi bahwa tujuan Rosululloh menikah adalah melindungi, buktinya hampir semuanya janda tua. Aisyah dinikahi Rosululloh agar hubungan dengan Abu Bakar lebih dekat lagi.

Ada hikmah dan alasan logis kenapa Poligami diperbolehkan dalam Islam. Coba anda hitung di dunia ini ada berapa Laki-Laki dan ada berapa Perempuan? Jika dibandingkan, maka perbandingannya adalah 1:5. Bisa dibayangkan jika seluruh laki-laki yang cukup umur menikahi seluruh wanita cukup umur sebanyak SATU kali, maka akan ada BANYAK SEKALI wanita-wanita yang tidak berpasangan, sehingga mereka tidak ada yang melindungi dan memberikan nafkah. Bisa dibayangkan? Itulah bukti mengapa Poligami diperbolehkan, itu adalah suatu bentuk keadilan dalam Islam. Namun tetap saja, jangan seenaknya berpoligami, karena poligami di Islam ada peraturannya.

Islam dan Mayoritasnya

Islam, semua orang pasti kenal kata islam. Terkadang lengkap disebut Diinul Islaam. Apakah maknanya? Secara bahasa, Diin bisa bermakna organisasi, partai, himpunan, sistem atau aturan. Lalu Islam secara bahasa bisa bermakna kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, berserah diri. Jadi dapat disimpulkan makna dari Diinul Islam adalah sebuah aturan keselamatan. Namun jika digunakan sebagai istilah, maka kita akan menyebutnya dengan Agama Islam.
Di dalam islam, seluruh tata cara dan pengambilan hukum kehidupan berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah (Hadits), seperti sabda Rosululloh SAW berikut:
Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabulloh (Al-Qur'an) dan Sunnah Rosululloh SAW. (Hadits) (HR. Muslim)
Oleh karenanya, ummat islam berkewajiban menjalankan perintah-perintah Alloh di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dan menjauhi larangan Alloh. Mungkin manusia bertanya-tanya khususnya orang Indonesia. Mengapa negeri yang penduduk islamnya paling banyak ini membuat banyak kasus-kasus negatif baik di dalam negeri maupun luar negeri? Jawabannya adalah karena MAYORITAS.
Lalu siapa yang salah? Ajarannya atau Pemeluknya? Jawaban pastinya adalah pemeluknya yang belum sepenuhnya mengamalkan ajaran agama Islam.

Islam sudah sangat tegas peraturannya, bisa dibuktikan Anda buka Al-Qur'an dan lihat bagian mana yang mengajarkan kejahatan? Bahkan peperangan pun dilarang menyerang wanita dan anak-anak. Islam mengajarkan kasih sayang sesama manusia. Islam mengajarkan keadilan. Islam mengatur hukum pidana, ketatanegaraan, keuangan. Islam melarang korupsi, pembunuhan, dan perzinahan. Di Al-Qur'an banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Alloh di alam semesta, seperti hukum fisika, kimia, biologi, matematika, semuanya masuk akal dan diterima oleh logika.
Lantas siapa yang salah? Tentu saja kita sebagai manusia, yang belum sempurna dalam melaksanakan ajaran Islam.

Lalu bagaimana? Mulailah dari diri sendiri, bukalah Al-Qur'an, baca dan hayatilah. Baca tafsirnya dan pahamilah. Anda bisa bergabung dengan komunitas Islam seperti Rohis, LDK, dsb supaya akhlaq dan perilaku sedikit demi sedikit mulai terkontrol. Semoga Alloh SWT memberikan kemudahan bagi yang memiliki kemauan. Aamiin.